Akhlak Mulia Rasulullah SAW

“ Kehadiran Muhammad SAW sebagai pembawa dan penyampai risalah terakhir ketauhidan menjadi mukzijat wajah dunia ( terutama bangsa Arab saat itu ) dari carut marut dan penuh kejahiliyahan menjadi bangsa yang terang benderang, beradab dan penuh dengan rasa kemanusiaan dan kecintaan antara sesama. Tak heran bila dalam banyak survei tentang tokoh – tokoh yang berpengaruh dalam merubah dunia, sosok Muhammad SAW. Selalu menempati urutan teratas. Berbagai kajian ilmiah, termasuk yang dilakukan kalangan Barat, tak membantah peran tersebut,“ demikian tulis Dr. Muhammad Majdi Marjan dalam bukunya ‘ Muhammad Sang Nabi Tercinta .”

“ Michael Hart mencantumkan nama Rasulullah SAW dalam urutan pertama 100 tokoh yang paling berpengaruh di dunia, lantaran kagum dengan akhlak beliau. Rasulullah SAW tidak saja berhasil mendidik diri, keluarga dan umatnya tetapi beliau juga mampu melestarikan kekuatan teladan itu dalam setiap nadi generasi para pengikutnya. Sebelum menasehati orang lain, jauh-jauh hari beliau selalu menghiasi dirinya dengan akhlak mulia ‘ibda binafsika,‘ “ kilah Yusuf Burhanuddin pula dalam artikelnya ‘Mencintai Rasul.’

Akhlak Nabi SAW merupakan acuan akhlak yang tidak ada bandingannya. Bukan hanya dipuji oleh manusia, tetapi juga oleh Allah SWT. Hal ini dapat dilihat dalam firman-Nya : “ Dan sesunguhnya kamu ( Muhammad ) benar-benar berbudi pekerti yang agung “. ( QS ( 68 ) : 4 ). Ketika Aisyah RA ditanya tentang akhlak Nabi Muhammad SAW, ia menjawab : “ Akhlaknya adalah Al Quran “. ( HR,.Ahmad dan Muslim ). Tingkah laku Nabi SAW tercermin dalam kandungan Al Quran sepenuhnya.

Rasulullah SAW menegaskan tentang misinya : “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak manusia.“ Sehingga Syauqi Beik dalm kata-kata hikmahnya menyatakan : “ Sesunguhnya umat dan bangsa itu sangat tergantung pada akhlaknya. Jika baik, maka akan kuat bangsa itu. Jika rusak, maka akan hancurlah bangsa itu.“

“Ditengah –tengah berbagai problematika berat yang kini dihadapi oleh bangsa dan masyarakat, kita pun kini dihadapkan pada kenyataan semakin marak dan merajalelanya perjudian, perzinahan, minuman keras, penggunaan narkotik, dan obat-obatan terlarang lainnya. Bahkan kini Indonesia telah menjadi tujuan bisnis bagi peredaran global narkotika dan bukan lagi sekedar tempat transit,“ ujar KH. Didin Kafidhuddin MSC dalam tulisannya ‘Menyelamatkan Akhlak.‘

Diantara akhlak mulia Rasul SAW ialah pemalu. Beliau bersabda ; “Hendaklah kamu merasa malu kepada Allah SWT dengan malu yang sebenarnya. “Para sahabat menjawab : “ Ya Nabiyullah, alhamdulillah kami sudah merasa malu.“ Kata Nabi SAW : “ Tidak segampang itu. Yang dimaksud dengan malu kepada Allah SWT dengan sebenarnya malu adalah kemampuan kalian memelihara kepala beserta segala isinya, memelihara perut dan apa yang terkandung di dalamnya, banyak-banyak mengingat mati dan cobaan ( Allah SWT ). Siapa yang menginginkan akhirat hendaklah ia meninggalkan perhiasan dunia. Siapa yang telah mengamalkan demikian, maka demikianlah malu yang sebenarnya kepada Allah SWT.“ ( HR.Turmuzi dan Abdullah bin Mas’ud ).

Dalam hadis lain Nabi SAW menegaskan bahwa memelihara rasa malu kepada Allah SWT akan mendatangkan kebaikan, baik bagi orang yang memeliharanya maupun bagi orang lain. Menurut beliau : “Malu tidak akan datang kecuali dengan kebaikan“ (HR.Muslim dari Imran bin Husein ). Dengan kata lain, rasa malu akan mendidik seorang Muslim untuk menjaga perilaku, sikap maupun ucapan : “Bagi setiap agama ada akhlak. Akhlak agama Islam adalah malu,“ tegas Rasul SAW seperti diriwayatkan Imam Malik dari Zaid ibn Thalhah. Artinya rasa malu merupakan bagian yang tidak boleh terpisahkan dari diri setiap muslim.

“Begitu hilang rasa malunya, maka hilang pula kepribadiannya sebagai seorang Muslim. Ia akan terbiasa berbuat dosa, baik terang-terangan maupun tersembunyi. Makanya sangat wajar jika Rasulullah SAW. murka terhadap orang yang tak punya rasa malu, “ tutur Busman Edyar dalam tulisannya ‘Manfaat Malu‘.

“ khlak mulia Muhammadlah dan bukannya pedang, yang menyebabkan umat Muslim berjaya dan mampu menyingkirkan segala penghalang. Ketika menamatkan biografi Muhammad, saya sedih karena tak ada lagi yang bisa saya baca tentang kehidupan agung itu,“ ujar Mahatma Gandhi pemimpin spiritual umat Hidnu di India.

Dr. Aidh Abdullah Al Qarni dalam bukunya ‘Al Quran Berjalan‘ setebal 399 menyimpulkan : “Kesuksesan luar biasa besar yang ditorehkan Rasulullah SAW tidak terlepas dari kisah sukses beliau dalam memerankan diri sebagai sosok manusia yang berakhlak mulia. Akhlak inilah yang mengawali tugas-tugas mulia yang dibebankan Tuhan kepadanya.“

Dalam diri Nabi SAW terkumpul sifat-sifat utama yaitu rendah hati, lemah lembut, jujur, tidak suka mencari-cari cacat orang lain, sabar, tidak angkuh, santun dan tidak mudah mabuk pujian. Nabi SAW selalu berusaha melupakan hal-hal yang tidak berkenan di hatinya dan tidak pernah berputus asa dalam berusaha. Oleh sebab itu Nabi SAW adalah tipe ideal bagi seluruh kaum muslimin, termasuk bagi para sufi. Hal ini sesuai dengan firman Alah SWT dalam surah Al Ahzab ayat 21: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap ( rahmat ) Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Alah.“ Wallahualam. **

Hindun bin Abu Halah menggambarkan akhlaq Rasulullah dengan:

‘Rasulullah adalah orang yang selalu mengkhawatirkan nasib orang lain, selalu berfikir dan penyayang.
Beliau tidak pernah beristirahat, lebih banyak diam.
Beliau tidak berkata kecuali seperlunya, membuka perkataan dan menutupnya dengan sempurna.
Beliau berkata dengan jawami’ul kalam (perkataan yang ringkas, padat dan jelas). Perkataannya fashil (jelas, membedakan yang baik dan buruk), tidak lebih dan tidak kurang’

‘Beliau tidak kasar dan tidak suka menghina.
Beliau selalu mensyukuri nikmat walau pun hanya sedikit dan tidak pernah mencela nikmat nikmat itu.
Beliau tidak pernah mencela makanan dan minuman dan juga tidak memujinya’

‘Beliau tidak marah dengan dunia dan apa yang berkaitan dengan dunia. Akan tetapi apabila kebenaran itu dimusuhi, tidak berhenti kemarahannya sampai memenangkan kebenaran itu.
Tidaklah beliau marah karena kepentingan dirinya, dan tidak pula dalam memenangkannya’

‘Apabila menunjuk, beliau menunjuk dengan telapak tangannya.
Apabila merasa heran, beliau membalikkan telapak tangannya.
Apabila berbicara, beliau memperjelas dengan telapak tangan kanan dan menyembunyikan yang kiri.
Apabila marah, beliau sungguh sungguh.
Apabila gembira, beliau menundukkan pandangannya.
Biasanya, tertawanya hanya dengan tersenyum. Beliau tertawa dengan tawa yang baik (hingga terlihat gigi giginya, tetapi tidak terbahak bahak) laksana embun’
(HR Tirmidzi)

Ali bin Abi Thalib ra. Adalah orang yang paling tahu tentang Rasulullah dan banyak berhubungan dengannya. Ia berkata:

‘Beliau tidak keji dan tidak pernah berbuat keji (baik perkataan maupun perbuatan).
Tidak pernah

 

Perihal Majelis Ta'lim Basaudan
Tempat belajar ilmu Agama Islam dan Bahasa Arab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: